Ia mencontohkan, kelangkaan benih sayuran unggul berkualitas, masalah transportasi distribusi, hingga harga yang terlalu mahal dapat berdampak langsung pada akses konsumen rumah tangga terhadap pangan.
“Kalau salah satu bagian terganggu, konsumen tidak akan mendapat sayur sebagaimana yang diharapkan,” katanya.
Prof. Bayu juga menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam mengukur kesejahteraan petani yang memegang peran sentral dalam sistem pangan.
Ia menyambut baik kebijakan pemerintah yang memasukkan Indeks Kesejahteraan Petani (IKP) sebagai salah satu indikator kinerja dalam APBN 2026.
Menurutnya, indikator tersebut menjadi penyempurnaan dari instrumen yang selama ini digunakan, seperti Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN).
