Dedi Mulyadi, Purbaya, dan Sjafrie Sjamsoeddin Masuk 10 Besar Elektabilitas Survei IPI Pilpres 2029

BICARA POLITIK – Lembaga Indonesian Public Institute (IPI) merilis hasil survei terbaru terkait peta awal bakal calon presiden (capres) 2029.
Survei tersebut memunculkan sejumlah nama baru yang mulai diperhitungkan dalam bursa Pilpres mendatang.
Beberapa figur yang masuk 10 besar elektabilitas antara lain Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Peneliti IPI, Abdan Sakura, menjelaskan kemunculan nama-nama baru tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, seperti kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, eksposur media, integritas, serta visi dan program kerja.
“Tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie tampil sebagai figur potensial dengan tingkat kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral,” ujar Abdan dikutip dari republika.co.id, pada Senin, 16 Februari 2026.
Ia menilai celah antara tingkat kelayakan dan elektabilitas itu membuka ruang dinamika politik baru, terutama jika terjadi perubahan konfigurasi koalisi, krisis politik, atau absennya figur utama dalam kontestasi.
Peta Elektabilitas
Dalam survei tersebut, IPI juga mencatat sejumlah kepala daerah masuk radar capres 2029, seperti Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda.
Sjafrie menempati posisi ketujuh dengan elektabilitas 7,5 persen. Dedi Mulyadi berada di peringkat kelima dengan 7,9 persen, sementara Pramono Anung di posisi keenam dengan 7,8 persen.
Adapun Purbaya meraih 4,9 persen dan Sherly Tjoanda 3,8 persen.
Elektabilitas Sjafrie bersaing ketat dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mencatatkan 8,5 persen di posisi keempat.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto memimpin perolehan elektabilitas dengan 22,3 persen.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di posisi kedua dengan 12,2 persen, disusul mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebesar 9 persen.
Abdan menyimpulkan, nama-nama besar masih mendominasi persepsi publik, baik dari sisi kelayakan maupun elektabilitas.
Faktor kekuasaan, kesinambungan elite, dan eksposur media dinilai masih kuat memengaruhi preferensi pemilih.
“Publik mengenal dan menilai para tokoh tersebut, tetapi belum sepenuhnya menjatuhkan pilihan,” ujarnya.
Metodologi Survei
IPI melaksanakan survei pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden berusia 17–65 tahun di 35 provinsi.
Peneliti menggunakan metode multistage random sampling atau sampel acak bertingkat. Teknik ini memilih responden secara bertahap dari unit besar ke unit lebih kecil secara acak dan proporsional.
Survei tersebut memiliki margin of error sebesar ±2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.***












