Membaca krisis eksistensial di era digital dalam kacamata Søren Kierkegaard

BICARA POLITIK – Di era kontemporer yang ditandai oleh banjir informasi, manusia modern dihadapkan pada paradoks kebebasan kosmis yang luas namun sekaligus mengalienasi.

Kemudahan teknologi memungkinkan individu untuk mengadopsi identitas apa saja, namun secara teoretis memperumit pencarian jati diri yang sejati.

Jauh sebelum distorsi digital ini terjadi, filsuf eksistensialis Søren Kierkegaard telah mengidentifikasi bahwa degradasi eksistensial atau hilangnya jati diri manusia tidak disebabkan oleh kesalahan fatal yang masif.

Sebaliknya, kondisi tersebut terjadi akibat proses pemiskinan eksistensi yang subtil, di mana individu terlalu sibuk meniru, mengimitasi, dan menjadi orang lain, sehingga melupakan kediriannya sendiri.

Dalam kerangka berpikir Kierkegaard, fenomena ini berakar pada konsep kerumunan (the crowd), yang dipandang sebagai agen utama pereduksi tanggung jawab personal dan pembunuhan karakter individual.

Pada realitas digital hari ini, “kerumunan” tersebut telah bermigrasi dari ruang fisik ke dalam layar gawai, dimanifestasikan melalui algoritma media sosial yang secara sistematis menggiring massa untuk berpikir, merasa, dan bertindak seragam.

Akibatnya, interaksi digital melahirkan ruang gema (echo chamber) di mana manusia berbicara bukan sekadar untuk didengar, namun suara autentik mereka justru tenggelam dalam gaung kolektif.

Dalam masyarakat yang menuntut perhatian tanpa henti (attention economy) ini, autentisitas mengalami komodifikasi dan reduksi makna, berubah menjadi sekadar strategi visual untuk bertahan hidup demi mendapatkan pengakuan artifisial.

Ketergantungan pada validasi digital ini pada akhirnya memicu krisis psikologis yang akut akibat benturan dengan paradoks pilihan (paradox of choice).

Manusia modern disajikan dengan ribuan kemungkinan eksistensial di ruang siber, namun dilingkupi ketakutan eksistensial akan kehilangan peluang (Fear of Missing Out).

Implikasinya, setiap keputusan estetik dan setiap unggahan di media sosial diposisikan secara keliru sebagai penentu mutlak nilai diri.

Namun, Kierkegaard menegaskan bahwa kecemasan (angst/anxiety) ini sebetulnya bukanlah patologi yang harus dihindari melalui distraksi digital, melainkan sebuah “pusingnya kebebasan” (the dizziness of freedom).

Kecemasan adalah panggilan eksistensial yang mengindikasikan adanya kebebasan memilih secara sadar, hanya dengan menanggung dan menghadapi kecemasan tersebut, manusia dapat bertransformasi dari sekadar objek yang “tampil” menjadi subjek yang benar-benar “eksis”.

Sehingga Untuk memulihkan kemandirian eksistensial ini, individu dituntut untuk mengambil tindakan radikal yang oleh Kierkegaard disebut sebagai lompatan iman (leap of faith).

Di dalam ekosistem digital yang serba terukur, terprediksi, dan kalkulatif, keputusan untuk melangkah tanpa kepastian empiris sering kali dianggap irasional. Kendati demikian, di sinilah letak signifikansi maknanya.

Artinya bahwa manusia harus berani mempercayai dan berkomitmen pada nilai-nilai yang tidak dapat dikuantifikasi oleh metrik digital ataupun jumlah metrik menyukai (likes).

Melalui lompatan eksistensial ini, manusia didorong untuk bertransisi dari tahap estetis yang dangkal menuju tahap yang lebih tinggi, dengan cara menghentikan komparasi lateral yang destruktif, menolak kalkulasi nilai kemanusiaan berbasis angka digital, dan menyudahi pencarian validasi eksternal yang semu.

Pada titik akhir dialektika ini, individu akan mampu menemukan kembali kediriannya yang autentik dan hadir di ruang realitas dengan wajah yang asli tanpa topeng digital dan hadir di tengah-tengah publik tanpa ada pemalsuan identitas! Merdeka sejak aku mengenal aku.

Penulis : Ril mahulauww

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup