Bupati Purwakarta Om Zein Perketat Izin Hajatan Usai Pemilik Hajat Tewas Dikeroyok Preman di Campaka

BICARA POLITIK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta bergerak cepat menyusul insiden tewasnya seorang pemilik hajatan di Kecamatan Campaka pada Sabtu, 4 April 2026.
Korban meninggal dunia setelah diduga dikeroyok sekelompok orang di tengah acara pernikahan.
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein langsung mengambil langkah antisipatif agar kejadian serupa tidak terulang.
Ia menyiapkan Surat Edaran (SE) yang mengatur pembatasan, pengetatan perizinan, serta pengawasan kegiatan keramaian, khususnya hajatan.
Bupati yang akrab disapa Om Zein itu menegaskan, kebijakan ini bertujuan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sekaligus memastikan setiap kegiatan yang melibatkan kerumunan berada dalam pengawasan aparat dan pemerintah daerah.
“Hari ini saya keluarkan Surat Edaran untuk membatasi dan memperketat perizinan serta pengawasan izin keramaian di tempat hajatan. Ini bentuk tanggung jawab pemerintah agar keselamatan masyarakat tetap terjaga,” kata Om Zein pada Senin, 6 April 2026.
Ia juga mengimbau masyarakat agar mematuhi aturan yang berlaku, menjaga kondusivitas lingkungan, serta berkoordinasi dengan aparat keamanan sebelum menggelar acara yang menghadirkan banyak orang.
Pemerintah daerah berharap kebijakan ini dapat menciptakan situasi yang aman dan tertib, serta mencegah potensi konflik yang merugikan warga.
Selain itu, Om Zein menyampaikan duka cita atas peristiwa yang menimpa korban.
Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi musibah tersebut.
Ia juga meminta masyarakat tetap tenang dan mempercayakan penanganan kasus tersebut kepada pihak kepolisian.
“Saya turut berduka cita atas meninggalnya warga di Campaka. Percayakan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada kepolisian. Saya yakin akan ditangani sesuai peraturan perundang-undangan,” katanya.
Diketahui, korban bernama Dadang (57), warga Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah pemuda yang dalam kondisi mabuk saat pesta pernikahan anaknya berlangsung.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 14.50 WIB ketika hiburan organ tunggal sedang berlangsung.
Saat itu, sekelompok orang datang ke lokasi dan meminta uang kepada penyelenggara hiburan dengan alasan membeli minuman tambahan.
Pihak penyelenggara sempat memberikan uang sebesar Rp100 ribu, namun permintaan tersebut ditolak karena dianggap kurang. Situasi kemudian memanas hingga berujung pada aksi kekerasan yang menewaskan korban. ***












