“Jadi, 1 SPPG rata-rata akan menerima uang Rp1 miliar per bulan. Kalau di Jawa Barat sudah ada 5.000 SPPG, itu artinya uang di Jawa Barat beredar Rp5 triliun per bulan. Dengan sekarang sudah berjalan 2,5 bulan, itu uang di Jawa Barat kurang lebih sudah beredar sekitar Rp11-12 triliun. Inilah yang menggerakkan roda ekonomi di setiap daerah,” jelasnya.
Lebih lanjut, program MBG sejak awal dirancang untuk mengoptimalkan potensi lokal.
Kebutuhan pangan dalam program ini diharapkan dapat dipenuhi dari hasil produksi daerah setempat, sehingga membuka peluang pasar yang luas bagi petani, pelaku UMKM, hingga industri pangan lokal.
Selain itu, keberadaan SPPG juga turut menciptakan lapangan kerja baru di daerah, mulai dari tenaga operasional hingga tenaga profesional seperti ahli gizi yang direkrut dari masyarakat sekitar.
Kesadaran akan pentingnya memperkuat ekonomi lokal pun kini semakin meningkat, termasuk di kalangan pemerintah daerah.
Banyak kepala daerah mulai mendorong agar anggaran yang masuk ke wilayahnya dimanfaatkan untuk membeli produk dan bahan baku lokal.
“Saya harapkan terjadi satu pergerakan ekonomi sirkuler di satu daerah yang sekarang sudah mulai disadari oleh semua pihak, betapa pentingnya meningkatkan produktivitas lokal sehingga ekonomi di daerah akan berkembang. Sekarang sudah banyak kepala daerah yang menginginkan uang yang masuk ke satu daerah itu dibelanjakan dengan membeli bahan baku yang ada di daerah tersebut,” ujar Kepala BGN.
Untuk mendukung pelaksanaan program secara optimal, BGN juga menempatkan tenaga ahli gizi di setiap SPPG yang direkrut dari wilayah setempat.
