Petani Utara Bekasi Mengadu, Plt Bupati Siapkan Strategi Hadapi Banjir dan Kekeringan

BICARA POLITIK – Dilansir dari Jabarprov.go.id (10/02/26), Pelaksana Tugas Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja menerima audiensi petani dari wilayah utara Kabupaten Bekasi, khususnya Kecamatan Cabangbungin dan Muaragembong, di Kompleks Pemerintah Kabupaten Bekasi, Cikarang Pusat, Senin (9/2/2026).
Pertemuan ini difokuskan pada penanganan banjir, kekeringan, serta pemulihan lahan pertanian yang kerap terdampak perubahan musim.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Wakil Bupati, Asep menegaskan bahwa persoalan pertanian tidak bisa ditangani secara parsial.
Menurutnya, petani di wilayah utara menghadapi siklus tahunan yang sama, yakni kekeringan saat kemarau dan banjir ketika musim hujan tiba.
“Musim panas kekeringan, musim hujan kebanjiran. Ini pekerjaan rumah kita bersama ke depan. Ada siklus lima tahunan di mana banjirnya sangat besar. Tapi kita tidak boleh diam, semuanya harus kita antisipasi,” ujar Asep.
Asep menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Bekasi saat ini tengah mengawal penyelesaian pembangunan Bendung BSH 0 di wilayah Sukajaya, Cibitung, yang ditargetkan rampung pada awal Maret 2026.
Ia meminta agar progres proyek tersebut terus dipantau karena sempat terkendala cuaca ekstrem dan banjir.
“Targetnya awal Maret harus selesai. Saya minta perwakilan petani ikut mendampingi di lapangan supaya tahu langsung prosesnya. Kalau hujan terus, kita bisa saling pantau dan berkomunikasi,” tegasnya.
Menurut Asep, keterlibatan petani dalam pemantauan lapangan penting untuk mencegah miskomunikasi apabila terjadi perubahan jadwal atau kendala teknis akibat kondisi alam.
Ia juga menyoroti dampak banjir yang menyebabkan gagal tanam di sejumlah wilayah pertanian utara Kabupaten Bekasi.
Karena itu, Asep menekankan penanganan pascabanjir harus dilakukan secara cepat dan tepat agar petani bisa segera kembali menanam.
“Banyak yang gagal tanam karena banjir. Penanganannya jangan sampai terlambat atau tidak tepat sasaran,” ujarnya.
Untuk solusi jangka panjang, Asep mengungkapkan rencana pengembangan sumur satelit tenaga surya sebagai alternatif pengairan di daerah rawan kekeringan.
Model ini akan diadaptasi dari daerah lain yang telah berhasil meningkatkan produktivitas pertanian di lahan kering.
“Kita belajar dari sumur satelit tenaga surya di Surabaya. Di lahan yang tandus saja bisa panen sampai tiga kali setahun. Ini bisa jadi solusi untuk wilayah yang sering kekeringan,” jelasnya.
Asep menegaskan sektor pertanian merupakan prioritas nasional sehingga perlu dipersiapkan sejak dini, termasuk melalui program pembelajaran langsung dan kunjungan studi bagi petani.
“Pertanian ini prioritas. Kita siapkan dari sekarang, bahkan bisa kita rencanakan belajar bersama petani ke daerah lain,” katanya.
Selain itu, ia meminta koordinasi lintas perangkat daerah diperkuat agar penanganan pertanian, banjir, sampah sungai, hingga infrastruktur tidak terhambat oleh persoalan komunikasi.
Asep juga menyoroti persoalan sampah sungai yang kerap menyumbat aliran air, terutama di titik-titik jembatan rendah.
Ia menginstruksikan agar seluruh sungai di Kabupaten Bekasi diidentifikasi untuk mengetahui titik rawan penyumbatan.
“Saya ingin semua sungai di setiap kecamatan didata. Biasanya di jembatan yang rendah, sampah menumpuk dan menyumbat aliran. Saya ingin tahu titik-titiknya,” tegasnya.
Menutup audiensi, Asep menegaskan komitmennya untuk mendorong kesejahteraan petani dan meminta masukan langsung agar kebijakan pemerintah daerah benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Saya minta masukannya supaya petani berjaya. Kalau petani makmur, negara akan jaya. Saya juga anak petani, jadi saya paham betul,” pungkasnya.***












