Pemudi Persis Jabar Turun Gunung Soal Sampah Bandung, Farhan: Kuncinya Bukan Teknologi!

BICARA POLITIK – Dilansir dari Jabarprov.go.id (09/02/26), Pemudi Persatuan Islam (Persis) Jawa Barat menegaskan komitmennya memperkuat dakwah yang berdampak langsung bagi masyarakat, termasuk pada isu krusial pengelolaan sampah di Kota Bandung.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) II Pemudi Persis Jabar yang dihadiri Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Auditorium Balai Kota Bandung, Minggu (8/2/2026).
Ketua Pemudi Persis Jawa Barat, Nia Kurnianingsih, menegaskan Muskerwil bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan ruang pertanggungjawaban moral dan ideologis atas amanah perjuangan kader.
Ia menekankan dakwah harus benar-benar memberikan manfaat nyata bagi umat dan masyarakat luas.
“Dakwah tidak cukup dijalankan dengan semangat semata. Ia menuntut kualitas kader, keteguhan nilai, dan keteladanan sikap. Kader Pemudi Persis harus hadir sebagai teladan di keluarga, organisasi, dan masyarakat,” kata Nia.
Mengusung tema Optimalisasi Dakwah dan Kualitas Kader Menuju Pemudi Persis yang Mandiri dan Berdampak, Nia menyoroti pentingnya penguatan kualitas kader sebagai fondasi kemandirian organisasi.
Kader yang matang secara pemikiran, kokoh secara nilai, dan peka terhadap realitas sosial dinilai mampu melahirkan dakwah yang relevan dan berkelanjutan.
Selain penguatan internal, Pemudi Persis Jabar juga membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah, jamiyyah Persis, badan otonom, serta organisasi kepemudaan lainnya.
Sinergi lintas sektor disebut menjadi kunci agar dakwah dan pemberdayaan perempuan memiliki dampak yang lebih luas.
Isu lingkungan, khususnya pengelolaan dan pemilahan sampah, menjadi salah satu fokus utama kolaborasi.
Nia menilai persoalan sampah bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut kesadaran, kebiasaan, dan keteladanan sosial.
“Pemudi Persis siap bersinergi mendorong pengolahan sampah mandiri berbasis keluarga, komunitas, dan kader perempuan. Perempuan punya peran strategis membangun budaya sadar lingkungan,” tegasnya.
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengapresiasi peran strategis Persis sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang berkantor pusat di Kota Bandung.
Menurutnya, Persis merupakan aset penting dalam pembinaan umat dan penguatan ketahanan keluarga.
Farhan menyampaikan bahwa persoalan sampah di Kota Bandung hingga kini belum memiliki solusi tunggal yang benar-benar tuntas.
Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Gedebage hingga Legoknangka masih menghadapi berbagai kendala teknis, regulasi, hingga skema pembelian listrik oleh PLN.
“Masalah sampah ini tidak bisa hanya mengandalkan teknologi. Kuncinya adalah pemilahan sejak dari rumah. Sampah itu tanggung jawab kita bersama bukan hanya pemerintah,” tegas Farhan.
Ia menjelaskan, Pemkot Bandung saat ini mendorong pemilahan sampah di tingkat RW melalui penugasan petugas pemilah (Gaslah).
Sampah organik dan sisa makanan diolah langsung di lingkungan menjadi kompos, maggot, atau pupuk cair tanpa harus dibawa keluar wilayah.
Farhan juga menyoroti rendahnya tingkat kepatuhan warga terhadap program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan).
Dari lebih dari 1.500 RW di Kota Bandung, baru sekitar 400 RW yang menjalankan program tersebut secara aktif.
“Tanpa partisipasi masyarakat, kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan persoalan sampah. Perubahan paradigma harus dimulai dari rumah,” tuturnya.












