Ia menyampaikan bahwa pesan tersebut berulang kali ditekankan oleh Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), agar guru tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter peduli lingkungan.
Menurut Purwanto, masa depan bumi sangat ditentukan oleh sikap generasi muda hari ini.
Karena itu, pendidikan cinta alam bukan sekadar program tambahan, melainkan kebutuhan mendasar dalam sistem pendidikan.
Sekolah, lanjutnya, memiliki tanggung jawab membentuk karakter siswa agar memiliki kepedulian, tanggung jawab, serta etika terhadap lingkungan hidup.
Ia menegaskan bahwa air, udara, tanah, dan hutan merupakan penopang utama kehidupan manusia.
Jika sejak kecil siswa memahami keterkaitan tersebut, mereka akan tumbuh dengan kesadaran bahwa merusak alam sama dengan merusak masa depan sendiri.
Sebaliknya, menjaga alam berarti merawat keberlangsungan hidup.
Purwanto mencontohkan gerakan menanam bambu yang pernah ia rintis saat menjabat sebagai Kadisdik di Purwakarta.
Bambu dipilih karena memiliki nilai ekologis, ekonomi, sekaligus budaya.
Selain mampu menyerap karbon, mencegah erosi, dan menyimpan cadangan air, bambu juga memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari bahan bangunan, alat rumah tangga, hingga seni dan musik tradisional.
Ia menilai, melalui kegiatan menanam dan merawat bambu, siswa belajar kesabaran, tanggung jawab, dan kerja sama.
Bambu menjadi simbol bahwa sesuatu yang sederhana dapat memberi manfaat besar jika dirawat dengan baik.
Menurutnya, pendekatan praktik langsung seperti ini penting agar pendidikan lingkungan tidak berhenti pada teori, tetapi membentuk pengalaman nyata yang menumbuhkan empati ekologis.
Purwanto berharap, pendidikan cinta alam sejak dini mampu melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, sekaligus matang secara moral dan ekologis.
Generasi inilah yang nantinya mampu mengambil keputusan pembangunan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada kelestarian bumi.***













