HWB Solusi Rumah Terjangkau untuk MBR

Menteri PKP, Gubernur Jabar, dan Bupati Purwakarta Tinjau Hunian Warisan Bangsa
BIPOL – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein meninjau langsung pengembangan kawasan Hunian Warisan Bangsa (HWB) di Purwakarta, Selasa (14/4/2026).
Kunjungan ini menjadi bagian dari implementasi program nasional penyediaan tiga juta rumah yang diinisiasi pemerintah pusat untuk memperluas akses kepemilikan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Maruarar Sirait menegaskan, proyek HWB Purwakarta merupakan terobosan penting dalam penyediaan rumah berkualitas dengan harga terjangkau.
“Ini adalah terobosan yang sangat penting. Hunian berkualitas dengan harga terjangkau seperti ini adalah kunci membuka akses kepemilikan rumah bagi masyarakat luas. Ini bukan hanya tentang rumah, tetapi tentang masa depan dan martabat,” ujar Maruarar.
Proyek ini menawarkan harga yang jauh di bawah pasar. Untuk unit satu kamar tidur dipasarkan mulai Rp98 juta, sedangkan dua kamar tidur mulai Rp115 juta—lebih rendah dibandingkan harga rumah subsidi FLPP yang umumnya di atas Rp160 juta.
Selain harga terjangkau, kawasan ini dirancang sebagai hunian terpadu dengan infrastruktur lengkap dan konsep komunitas yang terencana. Skema pembiayaan juga dibuat ringan, dengan cicilan sekitar Rp500.000 per bulan.
Bahkan, untuk unit satu kamar, tersedia skema cicilan awal sekitar Rp170.000 per bulan selama 15 bulan pertama.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menilai proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Purwakarta siap menjadi contoh. Ini bukan hanya membangun rumah, tetapi membangun kehidupan dan masa depan masyarakat Jawa Barat,” kata Dedi.
Proyek HWB Purwakarta mulai digarap sejak Juli 2025, mengantongi seluruh perizinan pada Oktober 2025, dan resmi diluncurkan pada Maret 2026 dengan sistem pre-selling (indent).
Dalam waktu singkat, proyek ini telah mencatat penjualan lebih dari 1.500 unit, menjadikannya salah satu model pengembangan hunian yang dinilai berhasil dan berpotensi direplikasi secara nasional.
Secara geografis, Purwakarta dinilai strategis karena berada di antara Jakarta dan Bandung serta dikelilingi lebih dari 6.000 pabrik. Kondisi ini mendorong tingginya kebutuhan hunian yang dekat dengan pusat aktivitas kerja.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau Om Zein, menyatakan dukungan penuh terhadap proyek tersebut.
“Kami mendukung penuh proyek ini. Ini membawa manfaat nyata, mulai dari penciptaan lapangan kerja, investasi, hingga harapan baru bagi masyarakat Purwakarta,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, proyek ini memiliki nilai investasi sekitar Rp1,5 triliun dan diperkirakan mampu menyerap lebih dari 3.000 tenaga kerja pada Juli–Agustus 2026.
Mayoritas material dan tenaga kerja berasal dari Jawa Barat, dengan lebih dari 95 persen bahan bangunan dan kontrak berasal dari dalam daerah serta lebih dari 80 persen tenaga kerja lokal.
Kondisi ini menciptakan efek berganda terhadap perekonomian daerah, mulai dari peningkatan aktivitas usaha hingga penguatan sektor industri lokal.
Proyek ini juga menjadi contoh kolaborasi antara pengembang besar dan pelaku usaha lokal. HWB Group menggandeng Lippo Cikarang serta pengembang lokal Iwang Prejadi dalam pengembangannya.
Perwakilan Lippo Cikarang, Ketut Wijaya, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah nyata menghadirkan solusi perumahan bagi masyarakat.
“Ini adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi dan pemberdayaan dapat menghasilkan dampak besar. Kami bangga bisa berkontribusi menghadirkan solusi perumahan,” ujarnya.
Sementara itu, Iwang Prejadi mengaku bersyukur atas dukungan berbagai pihak dalam proyek tersebut.
“Kami sangat bersyukur atas kepercayaan dari pemerintah dan mitra. Ini kesempatan bagi kami untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, program ini juga mendapat respons positif dari masyarakat. Salah satu calon pembeli, Ina Tiya, mengaku tidak menyangka bisa memiliki rumah dengan harga terjangkau.
“Saya tidak pernah membayangkan bisa punya rumah sendiri dengan harga seperti ini. Ini benar-benar mengubah hidup kami,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Sunarsih yang menilai lingkungan dan skema pembiayaan proyek ini sangat membantu masyarakat.
“Lingkungannya bagus, harganya terjangkau, dan cicilannya ringan. Ini kesempatan besar bagi kami,” ucapnya.
Sementara itu, Talita Yulia Fadila menyebut kepemilikan rumah memberikan rasa percaya diri untuk berkembang.
“Ini bukan hanya rumah, ini masa depan. Kami jadi lebih percaya diri untuk melangkah ke depan,” tuturnya.
Melalui proyek ini, pemerintah berharap Hunian Warisan Bangsa tidak hanya menjadi solusi penyediaan rumah layak, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi serta sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. ***












