Viral! Beasiswa LPDP, Anak Jadi WN Inggris, Netizen Ribut Soal Nasionalisme

BICARA POLITIK – Dilansir dari detik.com (20/02/26), Sebuah video yang diunggah seorang perempuan di media sosial viral dan memicu polemik di ruang publik.

Video tersebut menampilkan momen yang disebut sebagai “perayaan kecil” atas kedatangan sebuah paket yang telah ditunggu selama empat bulan.

Namun isi paket itu bukan barang mewah, melainkan surat resmi dari Home Office Inggris yang menyatakan anak kedua pemilik akun tersebut telah resmi menjadi warga negara Inggris.

Dalam video yang sama, ia juga memperlihatkan paspor Inggris yang diterima bersamaan dengan surat tersebut.

Unggahan itu kemudian ramai diperbincangkan, terutama setelah beredar tangkapan layar pernyataan dari akun Thread @drgrixxxxxxxxxx yang berbunyi:

“Kritik itu hak setiap warga negara. Tapi menerima beasiswa dari uang rakyat lalu menyatakan ‘cukup saya saja yang WNI, anak saya jangan’ bukan sekadar kritik kebijakan – itu pernyataan penolakan identitas kebangsaan. Kalau memang kecewa pada kebijakan, yang dikritik adalah kebijakannya. Bukan negaranya. Bukan rakyatnya. Dibiayai rakyat, lalu bilang ‘anak saya jangan jadi WNI’. Itu kritik atau amnesia moral?”

Pernyataan tersebut memantik perdebatan lebih luas tentang batas antara kritik kebijakan dan sikap terhadap identitas kebangsaan.

Di sisi lain, sejumlah warganet memberikan pembelaan terhadap pemilik akun. Mereka menilai yang bersangkutan berani “speak up” terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.

Menanggapi polemik yang berkembang, pemilik akun menyatakan dirinya telah memenuhi seluruh kewajiban sebagai penerima beasiswa LPDP, termasuk kembali ke Indonesia untuk berkontribusi sesuai ketentuan program.

Ia juga menjelaskan bahwa pernyataan dalam video tersebut merupakan bentuk rasa kesal dan kemarahan terhadap kebijakan pemerintah, bukan bentuk penolakan terhadap tanah air.

Perdebatan ini pun berkembang menjadi diskusi yang lebih luas tentang nasionalisme, kebebasan berpendapat, serta tanggung jawab moral penerima beasiswa negara.

Hingga kini, video tersebut masih menjadi bahan perbincangan di berbagai platform media sosial.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup