RI Tawarkan Investasi Mineral Kritis ke AS, Bahlil: Tetap Utamakan Kepentingan Nasional dan Hilirisasi

BICARA POLITIK – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, seluruh investasi di sektor mineral kritis harus sejalan dengan agenda hilirisasi dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

Pemerintah Indonesia membuka peluang investasi lebih luas bagi perusahaan Amerika Serikat dalam pengembangan mineral kritis.

Kebijakan ini menjadi bagian dari implementasi kerja sama ekonomi bilateral, dengan tetap menempatkan kepentingan nasional dan kepatuhan terhadap regulasi dalam negeri sebagai prioritas utama.

“Untuk mineral kritikal terkait dengan nikel, logam tanah jarang, dan mineral-mineral lainnya, kami telah bersepakat untuk memfasilitasi bagi pengusaha-pengusaha yang ada di Amerika Serikat untuk melakukan investasi dengan tetap menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam negara kita. Tapi, kita juga akan memberikan prioritas untuk mendukung, memfasilitasi dalam rangka eksekusi, termasuk dalamnya ada investasinya,” ujar Bahlil di Washington, D.C., pada Jumat, 20 Februari 2026.

Ia memastikan, Indonesia memberikan kesempatan yang setara kepada semua negara, termasuk Amerika Serikat, selama investasi tersebut mendukung program hilirisasi dan mematuhi aturan nasional.

Bahlil juga menepis anggapan bahwa kerja sama ini membuka kembali ekspor bahan mentah.

“Kita memberikan ruang yang sama kepada semua negara, termasuk Amerika dan beberapa negara lain yang akan melakukan investasi di Indonesia, khususnya di mineral kritikal dan ini sudah terjadi, sebelum perjanjian ini pun sudah ada contoh, seperti Freeport,” ujar Bahlil.

“Jadi, jangan diartikan bahwa kita akan membuka ekspor barang mentah, enggak. Yang dimaksudkan di sini adalah mereka setelah melakukan pemurnian kemudian hasilnya bisa diekspor,” tegasnya.

Pemerintah, lanjut Bahlil, telah memetakan sejumlah wilayah pertambangan prospektif yang siap ditawarkan kepada investor.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga momentum hubungan ekonomi strategis Indonesia–AS sekaligus memastikan proyek berjalan cepat dan terarah.

“Saya juga menjelaskan bahwa dalam konteks perolehan terhadap wilayah-wilayah pertambangan yang ada, kami setelah ini, kami akan menawarkan kepada mereka mana perusahaan-perusahaan yang ingin masuk dan kemudian kita fasilitasi dan saya sudah melakukan pemetaan-pemetaan terhadap lokasi-lokasi yang prospek karena kita juga harus membangun, menjaga hubungan yang sudah sangat baik ini,” ungkapnya.

Pemerintah berkomitmen mempercepat realisasi investasi agar segera berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah nasional.

Strategi ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis yang semakin penting bagi industri energi masa depan.

Melalui kebijakan tersebut, Indonesia menegaskan diri sebagai mitra strategis yang terbuka terhadap investasi global, namun tetap berdaulat dalam pengelolaan sumber daya alam dan konsisten menjalankan program hilirisasi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup