AS Diam-Diam Evakuasi Ratusan Tentara dari Timur Tengah, Antisipasi Serangan Iran?

BICARA POLITIK – Dikutip dari international.sindonews.com (24/02/26), Amerika Serikat dilaporkan telah memindahkan ratusan tentaranya dari sejumlah pangkalan di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Langkah ini disebut sebagai upaya antisipatif jika konflik terbuka pecah di kawasan tersebut.
Laporan New York Times yang mengutip pejabat Pentagon menyebutkan bahwa ratusan personel dipindahkan dari Pangkalan Al Udeid di Qatar.
Pergerakan serupa juga terjadi di pangkalan AS di Bahrain—markas Armada ke-5 Angkatan Laut—serta di Irak, Suriah, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Uni Emirat Arab.
Para pejabat Amerika mengkhawatirkan sekitar 30.000 hingga 40.000 pasukan AS yang tersebar di Timur Tengah berpotensi menjadi target utama jika Iran melancarkan serangan balasan.
Namun, lokasi pasti pemindahan pasukan tersebut tidak diungkapkan.
Situasi ini dinilai berbeda dengan insiden serangan ke Al Udeid pada Juni 2025 lalu, ketika Iran disebut memberikan pemberitahuan awal kepada AS.
Kali ini, ancaman dipandang lebih serius setelah Misi Iran di PBB memperingatkan bahwa, “Jika terjadi serangan Amerika, semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di wilayah tersebut akan menjadi target yang sah.”
Di tengah eskalasi tersebut, AS juga dilaporkan memperkuat sistem pertahanan udara di kawasan guna melindungi pasukan dan kepentingannya.
Katherine Thompson dari Cato Institute menilai langkah militer ini mengindikasikan potensi konflik yang lebih panjang dibanding perang 12 hari pada Juni lalu.
“Kemampuan Amerika Serikat untuk mempertahankan pertahanan pasukannya dan pangkalan-pangkalan di wilayah tersebut dalam jangka waktu yang lama, sambil juga mendukung pertahanan Israel, merupakan kekhawatiran utama,” ujarnya, dikutip dari Jerusalem Post.
AS juga menjaga dua kapal induknya tetap berada relatif jauh dari Iran guna menghindari risiko menjadi sasaran langsung.
Meski demikian, laporan menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump tetap membuka ruang diplomasi untuk menyelesaikan ketegangan dengan Teheran.












