Sebulan Pascabanjir Sumatera, Warga Rela Rogoh Jutaan Rupiah Demi Bersihkan Lumpur Rumah

BICARA POLITIK – Lebih dari satu bulan setelah banjir bandang melanda Sumatera, para penyintas masih berjibaku membersihkan lumpur yang menimbun rumah mereka. (04/01/26)
Bencana banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu membawa material lumpur dalam jumlah besar dan meninggalkan endapan yang cukup tinggi.
Tak sedikit warga yang akhirnya harus merelakan rumahnya karena timbunan lumpur bahkan mencapai bagian atap bangunan.
Sementara itu, warga yang memilih bertahan dan berupaya membersihkan rumah dari lumpur harus mengeluarkan tenaga ekstra serta biaya yang tidak sedikit.
Sewa Beko Ratusan Ribu per Jam
Seorang warga Aceh Timur menceritakan proses pembersihan lumpur di rumahnya yang terpaksa menggunakan alat berat jenis beko.
Alat berat tersebut membuat keluarganya harus mengeluarkan biaya hingga Rp1,2 juta hanya untuk pembersihan lumpur selama dua jam.
Baca Juga: Purwakarta Gelar Festival Gandrung Mulasara 2025: Apresiasi Inovasi Tatanen di Bale Atikan
“Sewa beko itu satu jam Rp600 ribu, jadi kita pakai uang pribadi. Pengerjaannya selama 2 jam, jadi kita habis Rp1,2 juta untuk mengeruk lumpur itu aja,” ucap warga dalam video yang diunggah akun Instagram @bg_dosen pada Sabtu, 3 Januari 2025.
“Nah, sekarang tinggal banjirnya aja. Kalau kita ke belakang rumah atau samping rumah, itu lumpurnya bisa sepinggang,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, keluarganya terpaksa menyewa beko karena endapan lumpur terlalu tinggi dan tidak mungkin dibersihkan secara manual.
Baca Juga: Keluarga Besar Disdik-PGRI Purwakarta Bantu Rehabilitasi Rumah Penjaga Sekolah yang Terbakar
“Kami sekeluarga terpaksa sewa beko karena nggak mungkin akan bersih pakai cangkul saja,” ujarnya.
“Uangnya pun didapat karena ada bantuan dari sanak family yang ada di luar,” imbuhnya.
Lumpur Masih Menutupi Jalanan Perkampungan
Dalam video tersebut, kondisi perkampungan di Blang Gleum, Kecamatan Julok, Aceh Timur, masih terlihat dipenuhi lumpur.
Baca Juga: Janji Keras Antikorupsi Menggema, Mahfud MD Bongkar Fakta Kasus Besar yang Mandek di 2025
Sisa air banjir juga masih menggenang di sejumlah titik, membuat lumpur tetap basah dan menyebabkan jalanan kampung menjadi licin.
“Ini kondisi kampung kami setelah sebulan (banjir). Ada perubahan sedikit dari yang sebelumnya lumpur selutut sekarang sudah dikeruk pakai beko,” sambungnya.
Update Kerusakan Rumah di Aceh Timur
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, sebanyak 8.000 warga dari 22 kecamatan masih bertahan di posko pengungsian.
Pemkab Aceh Timur juga mencatat terdapat 5.171 unit rumah warga yang mengalami rusak berat, 5.294 unit rumah rusak sedang, serta 1.426 unit rumah rusak ringan.
Sebagai langkah pemulihan, hunian sementara (huntara) bagi penyintas banjir akan segera dibangun, dengan jumlah awal sekitar 1.000 unit rumah.












