Dr. Mohammad Nasih: Menjadi Pemimpin Politik Lebih Sulit daripada Meraih Gelar Doktor

BICARA POLITIK – Dikutip dari YouTube (22/02/26), Dr. Mohammad Nasih, M.Si., doktor ilmu politik lulusan Universitas Indonesia (UI) sekaligus kader Partai Amanat Nasional (PAN), menyatakan bahwa menjadi pemimpin politik memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan meraih gelar doktor.

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam sebuah video yang membahas perbandingan antara jenjang akademik dan realitas politik.

Menurut Nasih, kepemimpinan politik tidak hanya berbicara soal kecerdasan intelektual, tetapi juga menyangkut legitimasi publik yang luas.

Ia mengawali penjelasannya dengan landasan filosofis kepemimpinan yang merujuk pada prinsip dalam Al-Qur’an, yakni ayat “Inna khaira manista’jartal qawiyyul amin” yang menekankan dua kriteria utama pemimpin ideal: qawiyyun (kuat, baik secara fisik maupun intelektual) dan amin (memiliki integritas serta dapat dipercaya).

Menurutnya, kombinasi kekuatan dan kepercayaan tersebut menjadi syarat utama dalam kepemimpinan politik.

Nasih kemudian membandingkan proses akademik dengan dunia politik. Untuk menjadi sarjana (S1), seseorang cukup meyakinkan tiga orang penguji.

Pada jenjang magister (S2), jumlah penguji berkisar empat hingga lima orang.

Sementara dalam ujian doktor (S3), meskipun prosesnya lebih ketat dan formal, jumlah penguji tetap terbatas.

Ia mencontohkan pengalaman pribadinya saat menempuh ujian doktoral di UI yang melibatkan sembilan profesor sebagai penguji.

Namun, menurutnya, tantangan menjadi politisi jauh lebih kompleks.

Seorang calon anggota DPR RI, misalnya, harus mampu meraih dukungan sedikitnya 150.000 hingga 200.000 pemilih untuk memperoleh kursi parlemen.

“Secara jumlah dan kompleksitas sosial, ini jauh lebih berat. Politisi harus menghadapi beragam karakter, kepentingan, serta latar belakang masyarakat, yang tentu berbeda dengan menghadapi dewan penguji akademik,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa intelektualitas saja tidak cukup untuk menjadi politisi yang berhasil.

Diperlukan kemampuan komunikasi, persuasi, serta integritas yang konsisten untuk membangun dan menjaga kepercayaan publik.

Melalui pernyataannya, Nasih menekankan bahwa kepemimpinan politik merupakan amanah besar yang menuntut kapasitas moral, intelektual, dan sosial secara bersamaan, bahkan melampaui tantangan yang dihadapi dalam dunia akademik.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup