Sabubukna Sib…!!!!

CERITA comeback di sepakbola bukan hal yang baru dan mustahil. Stadion Anfield & Olimpico pernah merasakannya.
Ada satu kesamaan dari comeback Liverpool 2019 dan Roma 2018: yang berubah lebih dulu bukan skor, tetapi stadion.
Dan itulah yang membuat pertandingan seperti ini selalu terasa hidup bahkan sebelum dimulai.
Anfield 2019 – Ketika Semua Orang Percaya Liverpool main di Anfield dengan defisit 3–0 melawan Barcelona.
Dua pemain penting mereka, Mohamed Salah dan Roberto Firmino, tidak bisa bermain.
Secara logika sepak bola, peluang hampir tidak ada. Namun pelatih Jürgen Klopp berkata sebelum pertandingan:
“If we can do it, wonderful. If not, fail in the most beautiful way.”
Intinya, kalo kita bisa comeback maka itu akan luar biasa, kalau ga bisa maka lakukan dengan cara yang indah (Edankeun…!!!).
Ia tidak menjanjikan keajaiban. Ia hanya meminta pemain bermain dengan hati.
Saat “You’ll Never Walk Alone” dinyanyikan sangat lantang, Anfield berubah menjadi lautan keyakinan.
Setelah pertandingan, Georginio Wijnaldum berkata: “The fans were unbelievable… they gave us so much energy.”
Andrew Robertson menambahkan:
“The crowd carried us.” Liverpool menang 4–0. Dan sampai sekarang, malam itu dikenang sebagai malam ketika stadion “ikut” bermain.
Walaupun gak bisa main, Salah nonton pakai baju bertuliskan “NEVER GIVE UP” sebagai dukungan untuk rekan-rekannya di lapangan.
Nah, manya eweuh nu pang jieunkeun baju jang Marc Klok…??? hehehe… Roma 2018 – Kota yang Menolak Menyerah Roma tertinggal 4–1 dari Barcelona sebelum leg kedua di Olimpico.
Ekspektasi hampir tidak ada. Lebih dari 70.000 suporter memenuhi stadion.
Kapten Daniele De Rossi mengatakan sebelum pertandingan: “We must believe, even if it seems impossible.” Federico Fazio berkata setelah pertandingan: “The stadium pushed us forward.”
Menit ke-82, Kostas Manolas mencetak gol yang mengirim Roma lolos. Pemain menangis di lapangan.
Stadion meledak dalam emosi. Malam itu dikenang sebagai salah satu malam terbesar dalam sejarah Roma.
Anatomi Sebuah “Remontada” Ada pola identik dari keajaiban di Anfield dan Olimpico: Stadion percaya lebih dulu hal ini akan terjadi Pelatih bicara tentang usaha, bukan skor Pemain merasakan energi suporter Kota ikut memainkan pertandingan Pemain lawan “kena” mental Karena comeback selalu dimulai dari keyakinan kolektif.
Bandung, Malam Ini Tidak ada yang bisa menjanjikan comeback. Liverpool tidak dijamin lolos.
Roma juga tidak. Tetapi mereka memiliki satu hal yang sama: kandang sendiri, suporter yang luar biasa, dan pemain yang berjuang semaksimalnya. Dan dalam sepak bola, itu sering menjadi awal cerita besar.
Karena ketika stadion hidup, pertandingan bisa berubah. Dan malam ini di Bandung, kemungkinan itu tetap ada, semoga.
Walaupun selalu sisakan ruang untuk ikhlas, agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik.
Tinggal ikhtiar terus tawakalna weh, daek teu daek kudu aya jalur langitan ieumah euy.
Wilujeng Shaum Romadhon ka sadayana, tong hilap selipkan doa saat Tarawih pertama ini atau kedua buat sebagian orang.
Sekali lagi, Bismillah SABUBUKNA SIB…!!! Berikan lagi malam yang indah tidak terlupakan di GBLA. Nuhun. ***
Ditulis oleh seorang bobotoh, Rangga Radithia, dengan akun Instagram @rangga.radithia dan X @RanggaRadithia.
Sumber: simamaung.pikiran-rakyat.com












