Usai Maduro Diciduk, Trump Buka Jalan Perusahaan Minyak dan Gas AS Masuk Venezuela Meski Embargo Tetap Berlaku


BICARA POLITIK – Dilansir dari cnnindonesia.com (04/01/26), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pada Sabtu, 3 Januari 2026, bahwa dirinya akan membuka peluang bagi perusahaan minyak asal AS untuk beroperasi di Venezuela.
Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah agresi militer AS yang berujung pada penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, pemimpin negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia.
“Kita akan mengizinkan perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu,” kata Trump dalam konferensi pers di Florida, dikutip AFP.
Namun demikian, Trump menegaskan bahwa kebijakan sanksi tetap diberlakukan.
Baca Juga: Banjir Susulan Hantam Sumbar, Maninjau Kembali Longsor hingga Warga Kuranji Panik Minta Tolong
Ia menyatakan bahwa “embargo terhadap semua minyak Venezuela tetap berlaku sepenuhnya.”
Amerika Serikat diketahui telah menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Venezuela sejak 2017, yang kemudian diperketat dengan sanksi sektor minyak pada 2019.
Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), Venezuela yang merupakan salah satu negara pendiri OPEC memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari total cadangan global.
Jumlah tersebut melampaui cadangan minyak sejumlah negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi dengan 267 miliar barel, Iran 209 miliar barel, dan Irak 145 miliar barel.
Baca Juga: BNPB Ungkap 6 Wilayah Sumatera Masuk Fase Pemulihan Pascabanjir dan Longsor
Analis minyak dari Kpler, Matt Smith, menyebut produksi minyak Venezuela sempat mencapai puncaknya di angka 3,5 juta barel per hari pada akhir 1990-an.
Namun sejak itu, produksi terus mengalami penurunan signifikan.
Saat ini, produksi minyak Venezuela diperkirakan hanya sekitar 800.000 barel per hari.
Sebagai perbandingan, pada 26 Desember lalu, Amerika Serikat memproduksi sekitar 13,8 juta barel minyak per hari.
Baca Juga: Dapur Gizi Purwakarta Siaga! Relawan Dilatih Hadapi Kebakaran dan Hewan Berbahaya
Sebagian besar minyak mentah Venezuela saat ini diperdagangkan melalui pasar gelap dengan potongan harga yang besar.
Trump menuduh bahwa pendapatan minyak Venezuela digunakan untuk membiayai berbagai kejahatan serius.
Trump mengklaim Venezuela menggunakan uang minyak untuk membiayai “terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan.”
Pada awal masa jabatan keduanya pada 2025, Trump mencabut izin yang sebelumnya memungkinkan perusahaan minyak dan gas multinasional tetap beroperasi di Venezuela meskipun ada sanksi.
Baca Juga: Teror Tengah Malam ke Rumah Sherly Annavita Terungkap, Telur Busuk hingga Identitas Keluarga Dikirim
Seluruh izin tersebut dihentikan, kecuali satu perusahaan asal AS, yakni Chevron.
Chevron diketahui mengoperasikan empat ladang minyak di Venezuela melalui kerja sama dengan perusahaan minyak nasional Venezuela, PDVSA, beserta afiliasinya.
Selain itu, Amerika Serikat juga memberlakukan blokade penuh terhadap kapal tanker yang dikenai sanksi yang keluar masuk wilayah Venezuela.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA) pada 2023, wilayah Venezuela menyimpan sekitar 17 persen cadangan minyak dunia.
Baca Juga: Banjir Cilegon Nyaris Telan Rumah Warga, Air Capai Leher Orang Dewasa
Namun, negara tersebut kini jauh dari status produsen utama akibat bertahun-tahun salah kelola dan praktik korupsi.
Minyak mentah Venezuela dikenal berkualitas rendah dan sebagian besar diolah menjadi diesel atau produk turunan seperti aspal, bukan bensin.
Amerika Serikat memiliki sejumlah kilang di kawasan Teluk Meksiko yang dirancang khusus untuk mengolah jenis minyak tersebut.












