Dari Nyaris Punah ke Bangkit Lagi! Program Gentengisasi Prabowo Jadi Harapan Baru Pengrajin Priangan Timur

BICARA POLITIK – Program Gentengisasi yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto kembali menyalakan optimisme para pengrajin genteng di berbagai daerah, termasuk Priangan Timur, Jawa Barat. (16/02/26)
Wilayah seperti Kabupaten Banjar, Ciamis, Garut, Pangandaran, hingga Tasikmalaya menjadi saksi bangkitnya harapan para pelaku industri genteng tradisional.
Salah satunya Nurdin, pengrajin genteng tanah liat dari Kampung Ablok, Kelurahan Sinar Galih, Kecamatan Langensari, Banjar.
Ia mengaku sudah lama berhenti memproduksi genteng karena sepinya permintaan.
Padahal, usaha tersebut selama bertahun-tahun menjadi tumpuan hidup keluarganya. Puncak kejayaan terjadi sekitar 2015, setelah itu pesanan terus merosot hingga memaksanya beralih membuat bata tanah demi menyambung hidup.
Kini, Nurdin menyambut program Gentengisasi dengan penuh harap.
Baginya, program ini seperti angin segar bagi pengrajin kecil yang hampir punah.
Ia bahkan menyebut dirinya sebagai satu-satunya pengrajin genteng yang masih bertahan di wilayah Langensari.
Harapannya sederhana: perhatian nyata dari pemerintah untuk pelaku usaha kecil seperti dirinya.
Dalam Sarasehan Ekonomi Kerakyatan bertema “Dari Tanah Menjadi Atap: Industri Genteng Tradisional Perkuat Kemandirian Ekonomi” di Tasikmalaya, sejumlah tokoh turut menyoroti pentingnya program ini.
Dosen Pascasarjana Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Edy Suroso, menilai Gentengisasi sebagai program strategis berbasis ekonomi kerakyatan.
Ia menyebut program ini padat karya, memanfaatkan sumber daya lokal, serta memiliki daya tahan terhadap krisis.
Industri genteng rakyat dinilai mampu menyerap tenaga kerja, menggerakkan ekonomi daerah, sekaligus menjaga kearifan lokal.
Sementara itu, Ketua Dekopin Kota Tasikmalaya, Agus Rudianto, menegaskan bahwa keberhasilan program ini harus ditopang manajemen koperasi yang kuat.
Ia mengingatkan bahwa industri kecil rentan tersisih oleh korporasi besar jika tidak diperkuat secara kelembagaan.
Konsolidasi koperasi, standardisasi produksi, perlindungan regulasi, hingga kemudahan akses modal menjadi kunci utama.
Tak hanya itu, Agus juga mendorong adanya edukasi digital bagi pengrajin agar pemasaran genteng bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
Program Gentengisasi pun dipandang bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga strategi menghidupkan kembali ekonomi rakyat dari akar rumput.***












