Peduli Krisis Iklim, Menko PMK Dorong Sekolah Terapkan Budaya Green Time untuk Tekan Screen Time

BICARA POLITIK – Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengajak satuan pendidikan memperkuat pendidikan karakter terkait perubahan iklim dengan memperkenalkan budaya green time kepada peserta didik.
Upaya ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap screen time.
“Anak-anak perlu mulai bergeser dari screen time ke green time, dari terus menatap layar menuju aktivitas yang bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan. Mereka perlu diajak mengeksplorasi lingkungan sekitar,” ujar Pratikno, Selasa (10/2/2026).
Ia menjelaskan, disrupsi akibat perubahan iklim membawa dampak nyata dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, sosial, budaya, hingga politik.
Karena itu, murid perlu dibekali pemahaman sejak dini mengenai langkah-langkah mitigasi agar siap menghadapi tantangan di masa depan.
“Oleh sebab itu, saya menitipkan ruang-ruang kelas agar dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk menghadapi disrupsi kedua, yakni perubahan iklim,” katanya.
Salah satu dampak konkret dari disrupsi tersebut, lanjut Pratikno, adalah meningkatnya risiko gagal panen yang berujung pada food loss dan food waste, sehingga berpengaruh terhadap ketahanan pangan nasional.
“Maka anak-anak perlu dilatih agar tidak menyisakan makanan. Di Indonesia, food loss dan food waste diperkirakan menghabiskan sekitar 30 persen stok pangan nasional,” jelasnya.
Ia menerangkan, food loss terjadi pada tahap produksi dan pengolahan, misalnya hasil panen yang tercecer atau hilang.
Sementara itu, food waste muncul ketika makanan tidak dihabiskan dan disia-siakan.
“Food waste ini masalah serius. Anak-anak harus dibiasakan untuk menghargai makanan,” imbuhnya.
Menko PMK menilai peran dinas pendidikan hingga satuan pendidikan di daerah sangat strategis dalam menyiapkan generasi penerus yang sehat secara fisik, mental, emosional, dan sosial, terutama dalam menghadapi berbagai risiko akibat perubahan iklim.
Menurutnya, budaya screen time di kalangan murid yang dapat mencapai hingga sembilan jam per hari perlu dialihkan ke aktivitas yang lebih produktif dan berorientasi pada kepedulian lingkungan.
Salah satu langkah konkret yang dapat dilakukan adalah mengganti screen time dengan green time melalui kegiatan memilah sampah, merawat lingkungan sekolah, hingga membiasakan siswa menghabiskan bekal makanan mereka.
“Kami mengajak kepala dinas pendidikan dan kepala sekolah menjadi orkestrator dalam membangun sumber daya manusia unggul. Libatkan semua pihak agar sekolah menjadi ruang pembelajaran bagi lahirnya generasi yang tangguh, sehat fisik dan mental, sehat secara sosial, serta mampu menghadapi disrupsi perubahan iklim,” pungkas Pratikno.***












